Media Asing Soroti Potensi Dinasti Politik Keluarga Jokowi

Media Asing Soroti Potensi Dinasti Politik Keluarga Jokowi

Media Asing Soroti Potensi Dinasti Politik Keluarga Jokowi

Media Asing Soroti Potensi Dinasti Politik Keluarga Jokowi – Dinasti politik adalah kekuasaan yang secara turun temurun di lakukan dalam kelompok keluarga yang masih terikat dengan hubungan darah tujuannya untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan. Dengan Dinasti politik pergantian Kepemimpinan mirip Kerajaan,Sebab kekuasaan di wariskan turun temurun dari pemilik dinasti kepada ahli warisanya agar kekuasaan tetap berada di lingkungan keluarga.

keluarga yang beberapa anggotanya terlibat dalam politik terutama politik berbasis pemilihan umum Anggota keluarga politik terikat lewat keturunan atau pernikahan, biasanya mencapai melibatkan beberapa generasi atau saudara umumnya dianggap bukan “keluarga politik”, tetapi keturunan akhir keluarga kerajaan turut terjun ke dunia politik monarki absolut tetapi berkuasa di negara.

Majunya menantu dan putra sulung Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam ajang pemilihan kepala daerah tahun ini turut di soroti oleh media asing. Bahkan, mereka menyebut mulai tercipta dinasti baru di idn poker apk dunia politik Tanah Air.

Laman Bloomberg, Selasa, 8 Desember 2020 melaporkan putra sulung, Gibran Rakabuming Raka memulai karier politik dengan maju sebagai calon Wali Kota Surakarta, Solo. Posisi itu dulu sempat di duduki oleh sang ayah pada 2005 lalu. Sementara, menantu Jokowi, Bobby Nasution, maju di pilkada 2020 sebagai calon Wali Kota Medan, Sumatera Utara.

Pembentukan dinasti politik itu semakin mendekati kenyataan ketika beberapa lembaga survei telah merilis hasil hitung cepat dan menyebut keduanya berhasil memenangkan pilkada 2020. Berdasarkan data, pilkada 2020 di ikuti oleh lebih dari 105 juta pemilih di seluruh Indonesia. Mereka di harapkan menggunakan hak pilihnya sembilan provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota.

Hasil akhir pilkada di perkirakan akan di  umumkan pada 15 Desember 2020 mendatang. Penyelenggaraan pilkada ini juga sempat menjadi sorotan publik karena pemerintah berkukuh tak mau menunda meski kasus COVID-19 terus melonjak.

1. Jokowi menolak anggapan tengah membangun dinasti politik

Media Asing Soroti Potensi Dinasti Politik Keluarga Jokowi 

Kantor berita Reuters pada pertengahan November lalu sempat meminta komentar Jokowi terkait masuknya Bobby dan Gibran ke dunia politik. Jokowi menepis anggapan tengah menyiapkan dinasti politik dengan cara memaksa putranya terjun menjadi pejabat publik.

Reuters menyoroti masuknya Gibran secara tiba-tiba ke dunia politik. Sebab, meski Gibran pernah menyatakan minat untuk menjajaki dunia politik tetapi hal itu masih lama untuk diwujudkan. Tiba-tiba pada tahun ini ia memilih ikut menjadi calon Wali Kota Solo.

Media itu juga menyebut terpilihnya Jokowi sebagai presiden dalam Pemilu 2014 lalu dianggap kemenangan orang luar. Sebab, sejak awal Jokowi tidak masuk kalangan elit pejabat atau rekam jejak keluarga yang berkarier di dunia militer. Alhasil, meski Indonesia sudah memasuki reformasi, tetapi kroni di era kepemimpinan Soeharto hingga kini masih ada di pemerintahan.

2. Lebih banyak dinasti politik dalam Pilkada 2020

Sementara, Reuters juga mengutip data yang dipaparkan oleh kandidat Doktor ilmu politik di Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat, Yoes Kenawas. Bila dibandingkan dengan pilkada serentak 2015 yang menampilkan 52 kandidat dari dinasti politik, maka di pesta demokrasi 2020, ada 146 kandidat yang berasal dari dinasti tersebut.

Selain menantu dan putra sulung presiden, pilkada 2020 juga diikuti putri wakil presiden dan keponakan menteri pertahanan. Di satu area di pinggiran Jakarta, tiga kandidatnya berasal dari dinasti politik. Sementara, dalam pandangan anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggaraini, demokrasi oleh sebagian orang digunakan sebagai tangga untuk meraih kekuasaan.

3. Reuters menyoroti rival Gibran di Pilkada Solo

Media Asing Soroti Potensi Dinasti Politik Keluarga Jokowi 

Hal lain yang cukup detail disoroti oleh Reuters yakni mengenai rival Gibran yang tiba-tiba muncul yakni Bagyo Wahyono. Pria berusia 59 tahun itu muncul sebagai kandidat independen menantang Gibran yang berpeluang sangat besar terpilih sebagai Wali Kota Solo. Ia tiba-tiba ikut mendaftar pada hari akhir pendaftaran cawalkot Solo pada 6 September 2020 lalu.

Wakil Ketua DPRD dari fraksi Partai Kesejahteraan Sosial (PKS), Sugeng Riyanto, mengatakan ia percaya terhadap informasi yang ia terima bahwa ada dorongan supaya pilkada di Solo tidak ada kotak kosong. Ada kekhawatiran hal itu justru bisa dipersepsikan negatif.

Ia yakin kemunculan Bagyo untuk mendukung skenario agar Gibran tidak melawan kotak kosong. Namun, Bagyo membantah bila disebut sebagai kandidat boneka.

Comments are closed.