Masyarakat Lembor Kekurangan Air Bersih

Masyarakat Lembor Kekurangan Air Bersih

Masyarakat Lembor Sudah Lama Kekurangan Air Bersih

Masyarakat Lembor Kekurangan Air Bersih – Sudah lama mengalami masalah kekurangan air bersih. Warga masih mengunakan air sungai untuk keperluan konsumsi dan Mandi Cuci Kakus. Jalan pintas menurun dan berbatu harus dilewati untuk menuju Wae Ara, sebuah batang sungai di Dusun Pandang, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat. Wae, yang dalam bahasa setempat berarti ‘sungai’, itu tidak terlalu besar dan berbatu.

“Di sini warga mandi, mencuci, ada yang ambil air untuk minum juga. Kalau saya lebih memilih Daftar 918Kiss membeli air galon isi ulang untuk masak dan minum,” lanjut Zul. Kata Zul, sebenarnya ada dua pilihan bagi warga Dusun Pandang, yakni mengambil air di sungai dan membeli air. Namun, air yang dijual per tangki pun berasal dari sungai.

“Kalau kita beli air, satu fiber (tangki) harganya Rp50-60 ribu. Bedanya, kita tidak usah repot  turun ke sungai,” jelasnya.

Manggarai Barat menjadi wilayah yang tergolong kering dengan kemungkinan hujan turun dalam kurun waktu empat bulan

Menurut data National Water Supply and Sanitation Information Services (NAWASIS) tahun 2016, 80% rumah tangga di Kabupaten Manggarai Barat dalam memenuhi kebutuhan sumber air bersih masih memanfaatkan air tanah dan sumber mata air sehingga baru 20%-nya yang mendapat pelayanan sistem pemipaan.

Di samping itu, curah hujan yang sedikit juga dimiliki sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, curah hujan di Manggarai Barat hanya sekitar 1.500 milimeter per tahun. Curah hujan pada daerah nonpegunungan relatif rendah. Manggarai Barat pun menjadi wilayah yang tergolong kering dengan kemungkinan hujan turun dalam kurun waktu empat bulan, yakni Desember sampai Maret, sedangkan delapan bulan lainnya relatif kering.

Pemerintah Bisa Memperhatikan Masalah Air Bersih

Seiring waktu, kualitas air sungai berbeda

Menurut Zul, semenjak ia kecil, aktivitas mengambil air di sungai dilakukan warga. Seiring waktu, kualitas air sungai pun berbeda. Menurutnya, kini air sungai tidak sebersih dulu. “Pernah juga ada yang buang kotoran di sisi yang lain,” lanjutnya.

Walaupun begitu, Yun (50), warga Dusun Pandang lainnya, mengaku tidak terganggu. Setiap hari ia pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci.

Muhammad Kahar (31), warga Dusun Pandang lainnya, dahulu pernah diwacanakan pemasangan pipa dan meteran dari mata air ke rumah-rumah warga, tetapi proses itu tidak diteruskan. “Dulu beberapa rumah yang secara ekonomi berkecukupan, pernah ada pasang pipa. Sekarang tidak dilanjutkan,” jelasnya.

Comments are closed.