Importir Diwajibkan Beli Gula Petani

Importir Diwajibkan Beli Gula Petani

Importir Diwajibkan Beli Gula Petani

Importir Diwajibkan Beli Gula Petani – Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) memprediksi harga jual gula petani bakal tertekan, menyusul masuknya gula impor bersamaan dengan musim giling tebu tahun ini.
“Pada awal Juni 2020, harga gula di tingkat petani sudah turun tajam hanya laku Rp10.800 per kilogram,” ujar Sekretaris Jenderal DPN APTRI M. Nur Khabsyin di Kudus, Jawa Tengah, Senin.

Pada awal puasa, gula masih laku Rp12.500 hingga Rp13.000 per kilogram, namun saat ini harganya sudah turun lagi menjadi Rp10.300/kg. Jauh di bawah biaya produksi yang sesuai perhitungan APTRI biaya pokok produksi (BPP) gula tani tahun 2020 rata-rata sebesar Rp12.772/kg.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Aptri M. Nur Khabsyin mengatakan bahwa petani telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah terkait impor gula. Dalam kesepakatan pada Jumat 10 Juli 2020 kemarin, pemerintah akan mewajibkan importir membeli gula di petani untuk mencegah anjloknya harga akibat kebijakan impor.

“Setelah pengurus APTRI diterima Pak Menko (Perekonomian) Airlangga Hartarto yang menegaskan bahwa pemerintah menugaskan importir membeli gula petani, kami yakin harga gula terus naik,” ujar Nur dalam pesan pendek yang diterima Tempo, Sabtu, 11 Juli 2020.

Berdasarkan dokumen yang diterima, dalam kesepakatan itu, pemerintah mewajibkan importir membeli seluruh gula petani pada musim giling sepanjang 2020 dengan harga Rp 11.200 per kilogram. Sebelum kesepakatan terjadi, harga gula di level petani sempat anjlok dan hanya dihargai Rp 10 ribu per kilogram. Padahal, biaya produksi gula mencapai Rp 12.500 per kilogram.

Stok gula impor yang terus berdatangan, lanjut Khabsyin, ditambah produksi gula lokal membuat pasokan melimpah.

Pedagang sendiri, lanjut dia, enggan membeli gula petani mengingat masih memiliki stok gula impor.

“Kami menilai penurunan harga gula musim giling tahun ini lebih cepat, dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan importir menikmati kenaikan harga gula sangat tinggi. Sementara, petani tidak demikian sehingga sangat tidak adil,” jelasnya.

Dengan kondisi demikian, ia memperkirakan harga gula petani akan turun terus sampai batas harga acuan pemerintah yang saat ini masih berlaku, yakni Rp9.100/kg. Apalagi, musim giling akan terus berlangsung antara empat hingga lima bulan ke depan.

Nur mengakui, setelah ada pembicaraan dengan pemerintah terkait kewajiban pelaku impor gula, harga gula yang dijual di petani memang terus naik. “Hari ini harga gula tani laku Rp 10.975 per kilogram. Kami yakin harga gula bisa naik di atas Rp 11.200 per kilogram karena ada sentimen positif pasar,” tuturnya.

Adapun saat ini, terdapat 12 perusahaan importir yang bersedia menyerap gula petani secara proporsional. Mereka adalah PT Sugar Labinta, PT Dharmapala Usaha Sukses, PT Berkah Manis Makmur, dan PT Permata Dunia Sukses Utama. Kemudian, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Medan Sudar Industry, dan PT Andalan Furnindo.

Empat perusahaan lainnya ialah PT Angels Products, PT Kebun Tebu Mas, PT Adikarya Gemilang, dan PT Priscolin. Perundingan untuk membahas kesepakatan itu dihadiri oleh perwakilan APTRI dari berbagai daerah, sejumlah pejabat dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan pejabat dari Kementerian Perdagangan.

Comments are closed.